BLANTERORBITv102

    Corona dan Gugupnya Lembaga Pendidikan Kita

    Tuesday, March 17, 2020
    Baik yang pro maupun yang kontra dengan kaum rebahan, mereka semua mau tidak mau atau bahasa kasarnya "dipaksa" untuk menjadi kaum rebahan. Kalau saya sih jadi kaum washatiyah aja yang berada di tengah-tengah mereka.

    Begini, karena virus Corona yang membuat seluruh dunia sedang genting ini, setidaknya dikebanyakan negara yang ada di dunia termasuk Indonesia harus melakukan upaya kepada masyarakat untuk sementara tidak beraktifitas di luar rumah dulu. Akibatnya, banyak elemen pekerjaan diliburkan bahkan sampai ke ranah pendidikan.

    Sekolah-sekolah diliburkan, madrasah, dan kampus-kampus, saya sebagai mahasiswa ikut mendapat efek tersebut walau bagi saya efek itu adalah efek mata uang koin, dimana kedua sisinya punya pengaruhnya masing-masing.

    Sisi pertama: saya suka, saya diliburkan, kebetulan saya sedang bersiap ujian proposal di sebuah kampus program pasca sarjana di Makasaar. Otomotis waktu persiapan saya bertambah untuk membaca banyak refrensi dalam menangkal dan menghalau virus sok tahu penguji dalam memberikan pertanyaan atas proposal tesis saya.

    Sisi kedua: saya pikir lembaga pendidikan kita terlalu gugup dalam melihat virus Corona ini, padahal bagi saya di saat dunia sedang genting ini, di saat inilah peran lembaga pendidikan dibutuhkan, katanya mau bersatu melawan Corona tapi kok mundur dan hanya disuruh tinggal di rumah. Pelajar-pelajar kita mana?, cendekiawan kita mana?, disaat inilah gagasan mereka dibutuhkan untuk melakukan aksi nyata di tengah-tengah masyarakat, di ruang-ruang lembaga pendidikan diskusi gagasan itulah akan lahir, disaat inilah dubuktikan apa yang selama ini dipelajari harus diterapkan, setidaknya pelajaran tentang kepedulian kepada sesama, bukan malah mengurung diri di rumah, tapi kalau sadar sistem pendidikan kita masih begitu-begitu saja, yaaahh..kita memang hanya bisa begini saja.

    Betapa klisenya lagi menurut saya, pemberlakuan libur itu oleh lembaga pendidikan diarahkan kepada pembelajaran online. Gini yah.. Asal anda tahu saja, masih banyak lembaga pendidikan kita sekadar membuat website saja, dan masih banyak lagi yang tidak ada websitenya, lalu pembalajaran online mana sih yang anda maksud?.. Pakai aplikasi itu..yang itu sanaee?.. yang ada iuran bulanannya itu?, atau pakai sosial media saja?. Entahlah, intinya teknologi informasi pendidikan kita belum siap, padahal untuk buat online class room di web wordpress itu nggak perlu biaya mahal kok.

    Lebih perihatinnya lagi bagi saya, ada saja orang-orang yang menyebut Corona sebagai dajjal modern. Ya Tuhanku yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, izinkan saya mengatakan kepada mereka bahwa Corona tidak sebercanda itu, tau nggak sih??. Sudah ada 4.984 orang di dunia dinyatakan telah meninggal, akibat supect virus atau infeksi Corona Virus Disease - 19 (Covid 19), itu nyawa loh bukan kaleng-kaleng, apakah tidak lebih baik orang-orang menyebut atau menyampaikan kepada masyarakat bahwa virus Corona itu dapat dicegah dengan menjaga kebugaran dan selalu bahagia. Itu lebih berfaedah, daripada menambah kegaduhan masyarakat yang belum tentu benarnya itu, jangan-jangan dajjal yang kita kenal adalah ego diri kita sendiri.

    Saya terinspirasi dari sebuah postingan foto di fansfage resmi Vokalis Band Noah, Ariel (Nazril Irham), dimana di foto tersebut yang dipublish pada tanggal 14 Maret 2020, tampak Ariel bersama kawannya sedang bergaya bahagia tapi tetap memakai masker, tampak difoto itu Ariel bersama kawannya sedang berada di bandar udara, disamping kawannya terlihat sebuah koper yang ia bawa.

    Saya mencoba membaca pesan yang ada di foto tersebut bahwa sebaiknya kita nggak terlalu panik menanggapi virus Corona ini, tetap bergerak, tetap bercengkrama dengan orang-orang di sekitar, intinya jaga kesehatan dan tetap bahagia.

    Dari foto tersebut pula saya teringat kisah Abu Nawas dengan Telur Unta untuk Obat Sang Khalifah, saya peringkas saja yah, takutnya kamu malas baca..ehhe.

    Dikisahkan pada suatu hari khalifah Harun al-Rasyid menderita sakit disekujur tubuhnya, dan belum ada obat yang mampu meredakannya. Akhirnya sang khalifah membuat sayembara bahwa siapapun yang mampu mengobatinya akan dihadiahkan uang dan emas, mendengar sayembara itu Abu Nawas tertarik untuk ikutan dan menemui sang khalifah.

    "Apa kamu mampu mengobati penyakitku ini?" tanya Sang Khalifah.

    "Hamba akan mencobanya baginda. Hamba akan mencoba memakai cara-cara yang belum pernah dilakukan oleh tabib lainnya,"

    Abu Nawas kemudian meminta baginda Harun al Rasyid supaya menerangkan penyakit apa saja yang Beliau derita agar Abu Nawas bisa menindaklanjuti.

    Keesokan harinya, Abu Nawas menghadap baginda.

    "Hai Abu Nawas, apakah sudah ada obat untukku?" tanya khalifah.

    "Maafkan hamba, baginda. Kali ini hamba datang belum membawa obat untuk baginda minum, sebab obat yang bisa menyembuhkan baginda hanya telur unta. Dan Baginda harus mencari telur itu sendiri karena jika tidak mencari sendiri, maka khasiatnya akan menghilang," papar Abu Nawas.

    "Jika memang harus seperti itu, baiklah aku akan segera mencarinya," jawab Sang Khalifah.

    Setelah berkeliling ke seluruh kota dan tak menemukan satu pun penjual telur unta, Harun al Rasyidpun bertemu dengan nenek tua yang menngatakan bahwa unta tidak bertelur tapi beranak. Lantas baginda tersadar jika ia baru ditipu oleh Abu Nawas

    Sampai di Istana, khalifah Harun al Rasyid pun merasa kelelahan setelah perjuangan panjangnya mencari telur unta dengan berjalan kaki. Beliau pun akhirnya tertidur pulas karena capek yang dideritanya.

    Beliau lalu menyuruh para pengawal untuk meminta Abu Nawas menghadapnya. Tak lama kemudian Abu Nawas menghadap.

    "Engkau menyuruhku mencari telur unta, padahal unta tak bertelur, melainkan beranak," papar khalifah.

    "Tentu saja baginda tidak akan menemukan telur unta, sebab tidak akan mungkin ada unta yang bertelur. Tapi bukankan baginda sekarang sudah merasa lebih enakan?" tanya Abu Nawas setelah memberikan penjelasan tadi.

    "Benar...! Apa yang kau katakan itu benar Abu Nawas," jawab Baginda yang tak lagi marah mendengar penjelasan Abu Nawas.

    "Bahkan aku semalaman dapat tidur dengan sangat pulas."

    "Kalau begitu, betul jika ada pepatah yang mengatakan, 'tidak ada kelezatan kecuali setelah kepayahan," sahut Abu Nawas.

    ***

    Cukuplah. Mari kita rebahan dan bersantai ria bersama kalau toh sekarang virus Corona telah membuat kita semua menjadi kaum rebahan. Tetap bahagia dan jaga kesehatan, asal maskernya jangan pakai BH~ wqwqkk







    Author

    Padweb Corp

    Beyond Web Created

    1. terus gimana dong solusinya, di Italia sudah 300 yang mati lho

      ReplyDelete