BLANTERORBITv102

    Menjadi Tau Kuttu yang Lebih Sekadar Tidak Berguna Demi Menyelamatkan Indonesia dari Corona

    Friday, April 17, 2020

    Tau Kuttu dalam masyarakat Bugis-Makassar dipahami sebagai sebutan insinuasi yang bersandar pada aksiologi "Elo' ande tea eco" (mau makan tapi tidak mau bekerja).

    Sedari kecil penyebutan tau kuttu sangat sering digelari pada diri saya, bahkan bukan hanya menjadi sarapan pagi, tapi juga sarapan siang, dan malam. Artimya sudah ada semacam penaksiran kandungan kukuttuan pada motorik saya sejak kecil.

    Walau saya masih anak-anak pada waktu itu, namun panggilan tau kuttu telah menjadi kenistaan ketika dibicarakan di tengah orang banyak. Apalagi saat-saat sekarang, saat bapak-bapak lebih dulu beli masker daripada daster untuk istrinya, dan saat jomblo lebih dulu pakai sabun untuk mencuci tangan daripada meelaborasi sabun di WC.

    Bertahun-tahun lamanya, label tau kuttu bertahan menjadi kutukan yang harus dihindari di kalangan pemuda Bugis-Makassar, sebab akan berdampak pada ekonomi, pendidikan, sosial, dan kumis calon mertua. Makanya, seperti dalam keluarga saya, ekosistem giat bekerja dibangun sedini mungkin, bekerja bagai kuda--bagai kuda yang berkaki delapan--bagai kuda yang ditarik terus ekornya. Tapi alhamdulillah wa syukurillah, penamaan tau kuttu tetap saja sering dinisbatkan di depan nama saya (pemalas).

    Tentu, masih ada doa yang diselipkan di dalam kata "tau kuttu" tersebut, agar hendaknya si pemyemat nama bisa bangun segera dari kekuttuannya, dan bergerak cepat di tengah kecepatan yang sangat cepat, bekerja sebisa dari yang dibisa lakukan, semampu dari yang mampu dilakukan.

    Tapi tidak sekarang, ketika corona datang dan merampas semua kebahagiaan kita yang mengharuskan pertemuan, sebab kita harus menjadi sekuttu-kuttunya di tiap jam kekuttuan kita dalam sehari.

    Kita dipaksa kuttu #DirumaAja, tanpa kontak langsung dengan orang lain, dengan jarak minimal 2 meter, dengan pakai masker, dengan pakai sabun, tapi tidak dengan pertemuan odo'-odo', yang bisa kita lakukan mem-video callnya dan menghitung jumlah rejectnya.

    Kekuttuan kita hari ini dipertaruhkan, untuk mendobrak asumsi lama yang menyesatkan bahwa tau kuttu itu tidak ada gunanya, dan tak akan menjadi berguna. Hari kita butuh dan harus menjadi tau kuttu.

    Agar kepala batu kita menjadi kepala kelapa yang walau keras, ada air yang mengalir di dalamnya, ada pikiran yang tidak masa bodoh sama pandemi corona, ada pikiran untuk saling menjaga dalam jarak yang entah kapan beekesudahan.

    Bukan sekadar ketidak bergunaan untuk tetap hidup yang kita ingin buktikan, tapi peran-peran kemalasan telah sampai waktunya untuk diarahkan sebagai penyelamat eksistensi manusia, seenggaknya defenisi "penyelamat" yang amat sederhana.

    Kita tak akan tahu juga nantinya, bagaimana dunia berproses sebegitu cepatnya dan berubah sebegitu bercandanya, sebab pandemi covid-19 telah membuka mata kita selebar-lebarnya, bahwa selalu ada kemendadakan yang terjadi, dan kita yang sok menjadi perencana rotasi hidup dan masa depan, tak akan sepenuhnya benar-benar menjadi benar.

    Akui saja, jangan munafik. Sudah lama kita membohongi diri dengan dalih-dalih era baru, kecepatan, dan disrupsi. Sudahlah, ada baiknya kita menjadi tau kuttu saja terlebih dahulu. Dengan berdiam di rumah. Inilah saatnya kita menyelematkan Indonesia dengan berdiam saja, berkuttu-kuttu saja di rumah.

    ©SahyulPahmi




    Author

    Padweb Corp

    Beyond Web Created