BLANTERORBITv102

    Arti Sebuah Kerja Keras

    Friday, September 25, 2020


     "Manusia diciptakan untuk bahagia dengan segala fasilitas di bumi ini, lalu kenapa harus bekerja keras lagi?" 


    Bahkan untuk makan saja, saya masih membutuhkan tangan untuk digerakkan menjangkau sesuap nasi untuk mennyendoknya ke dalam mulut.


    Bahkan untuk tidur saja, saya tetap butuh gerakan tertentu untuk medatangi sebuah pembaringan baik itu di ranjang maupun alas tiduran.


    Bahkan untuk melihat hal-hal indah yang tersedia di depan mata, saya harus membuka mata selebar-lebarnya.


    Semua butuh usaha, butuh gerakan nyata, realitas mengiyakannya--mengharuskanya.


    ****


    Manusia dalam sejarahnya yang paling awal dan dasar adalah makhluk yang terus bertumbuh, berpindah, dan berkembang. Dinamisasi tak akan lepas dari perputaran waktu dari masa ke masa, selama manusia masih disebut manusia.


    Saya. Selayaknya diantara kita semua mungkin, terus bertanya-tanya sampai kapan kedinamisan itu terjadi dalam eksistensi. Mengapa Sang Pencipta tidak menyediakan semuanya saja di hadapan kita tanpa harus mencarinya pun mengusahakannya.


    Sebab dengan analogi sedernaha, jika dunia adalah persinggahan semata, mengapa kita tidak menunggu saja di persinggahan ini tanpa harus berbuat untuk dunia sambil menikmati semau kita.


    ****


    Suatu kali, dalam pemahaman keluarga saya. Saat sangat ingin kebelet buang air besar dan tidak berada pada waktu yang tepat untuk menggugurkan hajat itu, saya disuruh untuk mengikat jempol kaki saya serat-eratnya.


    Saya tak tahu penjelasan ilmiahnya, pun sejauh ini belum saya dapatkan keilmiahnya. Namun karena dari dulu tidak suka mempermasalahkan hal-hal yang tidak menarik untuk dipermasalahkan saya menuruti saja praktek tersebut.


    Sampai kebelet BAB benar-benar terjadi, saya mengikat jempol kaki saya. Awalnya memang seakan mensugesti pikiran saya untuk meyakinkannya bahwa tenang "kebeletmu akan reda segera, karena telah mengikat kaki jempopmu."


    Jadi saya tidak bertindak dalam bentuk apapun untuk menyudahi kebelet saya dengan pergi ke toilet. Saya menunggu saja, saya diam saja, saya hanya merayu kebelet saya di dalam diri saya untuk tenang. Tenang.. Ada ikatan di jempol kaki kamu kok.


    Tidak berselang lama, sugesti saya ternyata tidak berhasil, atau mungkin saya diare karena setiap hari banyak minum kopi. Tapi apapun itu itu, ketika kebelet itu terjadi, tempat paling nyaman dan aman adalah WC.


    Dan jarak WC dari tempat saya tinggali tidak terlalu jauh pun tidak terlalu dekat. Namun kebelet tetap memaksaku untuk berlari.



    ©SahyulPahmi


    Author

    Padweb Corp

    Beyond Web Created