Harus saya akui, sejujur-jujurnya semenjak pandemi ada banyak hal yang menjanggal di hati saya.
Banyaknya hal janggal tersebut bukanlah berakar di luar diri saya, namun di dalam diri saya sendiri. Dimulai dari beban untuk menyelesaikan studi pascasarjana yang sampai saat ini masih ada iuaran saya yang nunggak, permasalahan bisnis web yang saya dirikan dan geluti yang kelihatannya permasalahannya semakin menyeruak kompleks. Pun dengan berbagai persoalan bayangan masa depan yang masih buram.
Di lain sisi saya harus bersyukur juga sebenarnya, dilahirkan, dibesarkan, dengan segala macam terpaan mental yang secara tidak sengaja membuat siklus kaderasasi kehidupan yang telah membentuk saya sampai hari ini.
Di tengah-tengah kegelisahan ini tentu saja saya tak tinggal diam, mencari sumber titik terang untuk dapat menyembuhkan, setidaknya dapat menjadi pemantik untuk melangkah ke jalan yang lebih sederhana untuk dilalui dan dijalani.
Dalam lamunan setiap hari dan setiap menjelang malam bahkan di jantung malam, saya bersuara terus dalam hati. "Sampai kapan harus begini?", semacam ada labirin luas yang telah saya masuki yang dindingnya terbuat dari jerami tua dan kering, yang ketika angin meniupnya satu kali saja, dinding jerami tersebut akan terbang berhamburan, serta pastilah posisi saya akan kalut berada di antara jerami beterbangan; menutup segala pandangan mata saya, sampai saya ragu-ragu untuk memilih arah lagi.
Namun kembali saya harus bersyukur lagi dilahirkan sebagai manusia (dalam defenisi pada umumnya) bahwa kekuatan terbesarnya adalah kemampuan untuk menentukan pilihan.
Apapun bentuk dan wujudnya pilihannya tetaplah harus memilih, dan dalam konteks saya sendiri untuk "menjadi" atau "berdiam diri" atau pada waktu yang lain ada pilihan lagi.
Sepengalaman saya hidup ataupun menjalani hidup, dalam otak kecil ini tak pernah ada setitik kisah atau lembar yang mengisahkan saya memilih dan beruntubg atas piihan yang telah saya tentukan, tak pernah. Akan tetapi di lain hal saat diperhadapkan pada suatu persoalan saya selalu memberanikan memilih, setidaknya bagi saya menentukan pilihan adalah bagian pilihan itu sendiri.
Tibalah saya pada pilihan untuk tidak menanggapi kegelisahan saya sebagai sebuah rancu kehidupan ataupun sebagai benalu yang menjamur dalam salah satu bagian hidup saya.
Saya memahaminya sebagai realita dalam yang transparan. Artinya ada dalam ketidakadaannya.
Saya tidak menanggapinya sebagai benar-benar ada, walau secara naluri manusia saya benar-benar gelisah, segelisah perantau yang mau pulang ke kampung halamanya dan tak punya ongkos untuk membayarnya.
Berhari-hari saya lalui gelisah itu, mencoba merangkak di jalan setapak pikiran bahwa "semua ini" tak pernah nyata, hanya bias diada-adakan sebagai pelengkap lawan operasional sebuah arti keabahagiaan. Semakin saya lalui ada sebesit serangkaian keluwesan--kelapangan menjalaninya, namun tanpa sadar saya harus menemukan titik kesementaraan. Kejenuhan.
Puncak kejenuhan itu didasari pada banyaknya energi yang menguras pikiran saya untuk menyisihkah kata "ada" (gelisah) dan menumbuhkan "tidak ada" (gelisah). Berlanjut, hari demi hari waktu ke waktu--jenuh.
Masih sih saya coba memilih pilihan lagi, tapi kelihatannya, saya harus memilih bantal saja, tertidur saja sepulas-pulasnya sampai mimpi-mimpi indah datang mengisinya.
Sebab mungkin benar juga, segelisah-gelisahnya seseorang enaknya ditidur-pulaskan saja.
~~~
©SahyulPahmi


0 Comments